Mobil, Motor, Tips

Ini Bahayanya Jika Telat Ganti Busi

Salah satu komponen yang perlu Kawan Parjo perhatikan sebagai pemilik motor/mobil, adalah busi. Busi merupakan komponen vital bagi kendaraan, yang jika rusak bakal merusak komponen lainnya.

Sebagai pemantik pembakaran mesin yang harus selalu terjaga performanya, dalam buku panduan kendaraan disarankan untuk mengganti busi ketika kendaraan telah menempuh jarak 6.000 kilometer untuk motor, dan 20.000 kilometer untuk mobil.

Namun, jika sering menghadapi cuaca buruk dalam perjalanan, semisal menerobos banjir, ada baiknya busi diganti sebelum batas waktu tadi.

Contoh, misalnya kawan sering berkendara di kemacetan, seperti di Jakarta yang selalu identik dengan kemacetan. Dalam kondisi itu sebaiknya busi diganti lebih cepat dari waktu dan besaran kilometer yang dianjurkan.

Baca juga

Penyebab Kerusakan Busi

Sebenarnya ada tiga penyebab umum yang memicu rusaknya busi. Pertama adalah karena asupan bahan bakar berlebihan. Ini mengakibatkan busi menjadi lembap dan kotor, membuatnya cepat mati.

Hal lain yang juga membuat busi rentan rusak adalah oli yang masuk ke ruang bakar. Ini bisa terjadi jika silinder mesin, ring piston, atau setang piston telah mengalami keausan, sehingga oli merembes ke ruang bakar. Akibatnya pembakaran bahan bakar tak sempurna, busi menjadi kotor dan basah.

Penyebab terakhir yang sering terjadi adalah korsleting jalur pengapian motor. Jika ini terjadi, maka pasokan listrik untuk pengapian menjadi tak stabil. Akibatnya, mesin rusak dan tak bertenaga.

Kasus ini dapat berdampak pada kerusakan komponen lainnya, seperti koil, kapasitor atau Capacitor Discharge Ignition (CDI), dan busi.

Baca juga

Kerusakan Struktur Busi

Seperti dijelaskan dalam siaran pers produsen busi NGK (16/4/2018), dalam struktur fisiknya pada busi terdapat dua elektroda yang biasa disebut elektroda ground maupun elektroda pusat.

Elektroda tersebut memiliki celah (gap) yang sudah disesuaikan oleh standar mesin yang digunakan.

Namun seiring waktu, elektroda tersebut mengalami erosi atau kerusakan yang menjadikan celah tersebut menjadi lebih lebar. Contoh, celah standarnya 0,7 mm, tapi setelah digunakan menjadi 1,0 mm.

Secara teknis, makin lebar celah busi makin besar kemungkinannya memicu perubahan performa kendaraan. Anda akan merasakan rentetan atau tahapan penurunan performa kendaraan akibat busi yang sudah tidak layak pakai tadi.

Dampak lain dapat berimbas pada komponen pendukung busi lain seperti tutup busi, kabel pengapian, koil, bahkan sampai berimbas pada kinerja aki/ baterai kendaraan.

Jika sudah seperti itu, maka Anda berpotensi merogoh kocek lebih dalam untuk mengganti beragam kerusakan komponen kendaraan. Oleh karena itu, sebelum terlambat gantilah busi tepat waktu. Jangan tunggu kendaraan bermasalah, apalagi mogok.

Related Posts

Tinggalkan Balasan