Mobil, News

Maleo, Mobil Nasional BJ Habibie yang Tak Kunjung Datang

prototipe maleo, mobnas BJ Habibie

Jauh sebelum kemunculan Esemka, Presiden ketiga Indonesia, BJ Habibie, telah lama menggagas kelahiran mobil nasional. Namanya Maleo.

Maleo yang diambil dari nama burung endemik Sulawesi itu begitu potensial menjadi mobil perdana karya anak bangsa.

Tapi sayang, mimpi tersebut tak kunjung datang hingga lelaki kelahiran Pare-pare 83 tahun silam itu menutup mata pada Rabu (11/9/2019).

Baca juga

Dikembangkan Sejak 1993-1997

Maleo dikembangkan pertama kali tahun 1993 ketika BJ Habibie menjabat sebagai Menteri Riset dan Teknologi di era Soeharto.

Kala itu, pemerintah menunjuk IPTN untuk membuat suatu mobil milik negara yang khas nusantara.

Sampai tahun 1997, BJ Habibie konsisten membuat rancang mobil untuk Maleo. Bahkan ia sukses menelurkan 11 purwarupa.

Cuma Sebatas Rencana

Selama itu pula, popularitas Maleo kian menanjak hingga ke kancah internasional. Dalam pengembangannya, Maleo tadinya berencana menggandeng perusahaan Inggris, Rover.

Sebagaimana dibeberkan Birmingham Mail, kala itu wujud Rover yang bakal jadi cikal bakal mobnas Maleo adalah salah satu sedan Rover populer, Metro.

Singkatnya, bila saat itu benar terwujud, maka 10 ribu unit Rover Metro yang dikirim ke Indonesia mestinya dirancang bangun menggunakan komponen dalam negeri yang dinamakan Rancang Maleo.

Lalu, jika sudah resmi jadi mobnas, Maleo wacananya bakal segera mengaspal tahun 1994 dan diproduksi massal di Tanah Air tahun 1997.

Spek dan Harga Maleo

Spesifikasi Maleo bukan sembarangan. Selain dibekali dimensi panjang 3.520 mm, tinggi 1.380 mm dan wheelbase 2.270 mm, Maleo juga disempali kapasitas mesin 1.200 cc 3-silinder. Belum lagi 60-70 persen komponennya konsisten buatan lokal.

BJ.Habibie bahkan sempat menyebut di masa depan, Maleo tak lagi berbahan bakar bensin, melainkan hidrogen.

Untuk harga kala itu, Maleo akan dibanderol di kisaran Rp25-30 juta dan masih bisa ditekan.

Baca juga

Sayang, belum sempat rencana besar Maleo terealisasi, pemerintahan Orde Baru harus lengser di tahun 1998.

Bersamaan dengan itu pula mimpi memproduksi merek ini tak kunjung datang lantaran pendanaannya terhenti akibat adanya proyekan mobnas lain, Timor.

Apalagi setelah itu, tepatnya April 1998, program Mobnas ditutup karena diklaim WTO telah melanggar perdagangan bebas. (oya/man)

Related Posts

Tinggalkan Balasan