Mobil, News

Kelakuan Truk ODOL, Kapasitas 12 Ton Bawa Barang 35 Ton

kelakuan truk ODOL

Kawan Parjo masih ingat gak, peristiwa nahas kecelakaan beruntun di Tol Cipularang KM 91 (2/9/2019) yang melibatkan setidaknya 21 kendaraan, ternyata  terjadi karena truk mengalami rem blong.

Berselang pekan setelah itu, Selasa (10/9) kembali terulang kasus serupa di Tol Cipularang KM 92, meski gak sampai memakan korban.

Nah, demi pencegahan, pihak Jasa Marga mengaku rutin mengadakan razia kendaraan tak sesuai spesifikasi. Khususnya di beberapa titik tol Cipularang, Jawa Barat.

Menurut Jasa Marga, hal paling fantastis dari temuan razia mereka sejauh ini adalah kelakuan truk ODOL (over dimensi/over load) yang bawa muatan sampai 35 ton padahal kapasitasnya cuma 12 ton.

Apa itu ODOL?

Truk ODOL

ODOL (Overload and Over Dimension) atau kelebihan muatan dan dimensi, memang identik dengan kendaraan barang. Terutama truk dan pick-up.

Kendaraan seperti itu bukan hanya merugikan negara karena merusak jalan, tapi berbahaya bagi penumpang maupun pengendara lain lantaran muatan berlebih paling potensial menyebabkan rem blong pemicu kecelakaan.

Dwi Winarsa, General Manager Jasa Marga Cabang Purbaleunyi, mengatakan (12/9), kelakuan truk ODOL bermuatan 35 ton tadi merupakan contoh yang sangat membahayakan.

Selain overload hampir 300 persen, dimensi kendaraannya juga melebihi batas maksimal 1 meter.

Padahal, kata dia, banyak rambu dan penanda lalu lintas sengaja dipasang agar supir truk sadar kendaraan yang dibawanya tidak layak jalan.

Baca juga

Peliknya Larangan ODOL

Regulasi dan kebijakan ODOL tertera dalam pasal 277 UU No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

Penerapan penertiban truk ODOL pun telah diberlakukan Kementrian Perhubungan per 1 Agustus 2019.

Namun, pelanggaran tetap saja terjadi. Bahkan di tiga wilayah Jawa Timur yang jadi sampel monitoring kendaraan ODOL, yaitu Balonggandu, Losarang, dan Widang, pelanggaran masih di atas 100 persen.

Truk ODOL

Regulasi Lemah dan Campur Tangan Penguasa

Musabab paling kuat, lantaran ada campur tangan pelaku usaha meraup keuntungan dan lemahnya regulasi selama ini.

Sebagai gambaran, agar truk muat banyak dalam sekali jalan, banyak pelaku usaha meminta pada perusahaan karoseri dibuatkan truk dengan rancang bangun menyalahi aturan.

Sampai sekarang pun, mengingat menindak ODOL itu pelik, pemerintah masih memberi beberapa toleransi. Alasannya guna mencegah kelangkaan barang yang bisa memicu inflasi.

Misal, truk semen dan pupuk baru ditilang jika kelebihan muatan dan dimensinya melebihi 40 persen. Sementara untuk truk makanan dan sembako 50 persen ke atas.

Baca juga

ODOL Dilarang Masuk Tol

Yang pasti, Kemenhub berkali-kali telah mengagendakan strategi membabat ODOL.

Wacana terakhir, setelah komitmen “Zero ODOL” tahun 2022 nanti, Kemenhub juga dengan tegas melarang ODOL melintasi jalan tol yang tadinya bakal dimulai 2021, dipercepat menjadi tahun 2020 mendatang. (oya/man)

Related Posts

Tinggalkan Balasan