Komunitas, Motor, News

SIM C Khusus Moge Kapan Keluar?

SIM C khusus Moge

Banyaknya kasus kecelakaan motor gede alias moge merenggut nyawa bikin kita bertanya-tanya kapan tepatnya SIM C khusus moge bakal keluar?

Sekadar mengingat, ada banyak selebritas dan tokoh masyarakat yang mesti kehilangan nyawa ketika mengendarai motor dengan bobot berat dan performa buas ini.

Mereka yang selamat pun tak jarang perlu menderita luka-luka sampai patah tulang. Bahkan untuk kecelakaan tunggal.

Baca juga

Wacana SIM C Khusus Moge

Sebab itu, demi menyaring pengguna moge kompeten dengan kemampuan berkendara yang baik, sempat muncul wacana menerbitkan surat izin mengemudi.(SIM) C khusus moge. Tepatnya dua tahun lalu.

Penerapan SIM C khusus moge ini mengacu pasal 7 Peraturan Kapolri (Perkap) Nomor 9 tahun 2012 tentang Surat Izin Mengemudi yang kemudian direvisi pertama kali dalam Peraturan Pemerintah Nomor 60 tahun 2016 tentang Jenis dan Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).

Revisi awal Perkap mencakup tiga klasifikasi SIM C yaitu C, C I, dan C II.

SIM C diperuntukkan bagi sepeda motor bermesin hingga 250 cc, SIM C I untuk mesin 250-500 cc, dan SIM C II untuk mesin 500 cc ke atas.

Sayang, sampai saat ini belum ada kejelasan lagi soal penerapannya.

Tinggal Menunggu Waktu

Meluruskan ketidakjelasan tersebut, Kepala Seksi SIM Ditlantas Polda Metro Jaya Komisaris Polisi Fahri Siregar mengatakan, SIM C khusus moge belum dikeluarkan karena penerapan hukum serta tata perundang-undangan dalam revisi Perkap masih perlu dipelajari dan baru memasuki tahap penyusunan.

Yang pasti, sambung Fahri, proses menuju pemberlakuan SIM C khusus moge saat ini sedang berjalan dan diharapkan bisa selesai sesegera mungkin.

Dengan kata lain, aturan baru ini cuma tinggal menunggu waktu untuk segera diketok palu.

Kata Pengamat Soal Kategori SIM C

Menurut Agus Sani, Head of Safety Riding Wahana Honda, kehadiran SIM C moge ini sangat penting. Khususnya untuk meminimalisir korban kecelakaan akibat pengendara moge yang awam.

Sekalipun tak ada larangan beli moge asalkan punya uang, tapi larangan berkendara bila tak memenuhi syarat perlu diperketat.

Sebab, kata Agus, faktor utama penyebab kecelakaan tunggal moge paling sering karena pengendara salah dalam melakukan pengereman.

Bahkan, sambungnya, banyak orang kaya beli moge padahal belum bisa naik motor. Pun tak jarang moge jadi motor pertama yang mereka kendarai.

Baca juga

Penggiat keselamatan berkendara, Jusri Pulubuhu, secara khusus menyambut baik pengkategorian untuk SIM C tersebut. Ia menilai hal itu sesuai dengan kemampuan berkendara dan kepatutan kepemilikan.

Pendiri Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) ini menjelaskan para pengendara memang harus dikategorikan sesuai dengan kapasitas mesin motor yang digunakan.

Karena menurutnya untuk menggunakan motor berkapasitas mesin besar, dibutuhkan kemampuan tambahan.

Pria 63 tahun itu sangat mendukung pembagian kelas tersebut. Karena menurutnya keterampilan membawa motor berbeda-beda. Menurutnya, motor diatas 500cc sudah pasti berbeda dengan motor kecil, baik bobot, maupun tenaga dan panas yang dihasilkan.

Tapi Jusri menegaskan bahwa ada dua hal yang harus dilakukan Polri agar pengkategorian SIM C dapat berjalan efektif.

“Pertama adalah dengan mempersiapkan aturan secara rinci, termasuk edukasi sebelum benar-benar disahkan SIM tersebut,” jelas Jusri.

Polisi juga mesti mempersiapkan segala sarana pengujian yang dibutuhkan, termasuk kemampuan pengujinya. Pendek kata, jangan sampai penguji adalah orang biasa yang justru tidak punya sertifikasi mengendarai moge.

Senada dengan Jusri, pengamat dan jurnalis otomotif, Munawar Chalil, menilai perlu adanya tes psikologi untuk mendapatkan SIM C khusus moge.

Tes psikologi tersebut, sambung sosok yang akrab disapa MC ini, untuk menentukan apakah mereka yang lolos tes memang layak mengendarai motor dengan mesin besar yang tentunya lebih sulit dikendalikan.

Chalil menyarankan agar tidak langsung diberikan begitu pemohon lulus uji. SIM untuk moge itu sebaiknya diberikan secara bertahap dan ada evaluasi berkelanjutan. (oya/man)

Related Posts

Tinggalkan Balasan