Mobil, Motor, News

Awas Bising, Modif Knalpot Ada Aturannya

knalpot bising

Memodifikasi knalpot standar dengan produk aftermarket boleh-boleh saja. Namun, jika penggantian knalpot ini sampai mengganggu orang lain dengan polusi suara berlebih alias bising, itu yang masalah.

Aturan Pakai Knalpot

Kasubdit Gakkum Ditlantas Polda Metro Jaya, AKBP M. Nasir menegaskan bahwa kendaraan bermotor yang menggunakan knalpot tidak sesuai standar seperti mengeluarkan suara bising dilarang beroperasi.

Sebab, knalpot standar yang layak beroperasi harus sesuai spesifikasi teknis dalam uji kelaikan jalan yang berlaku di Indonesia.

Untuk ranah lingkungan, aturan tentang ambang batas kebisingan knalpot tertuang dalam Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No.7 tahun 2009.

Peraturan Kendaraan Bermotor Tipe Baru itu diteken Menneg LH Rachmat Witoelar pada 6 April 2009.

Ketentuannya mensyaratkan knalpot motor tipe 80 cc ke bawah  melepaskan maksimal noise 85 desibel (db). Lalu, tipe mesin 80 cc – 175 cc dan 175 cc ke atas maksimal noise 90 db.

Intinya, semakin tinggi volume suara yang dihitung menggunakan satuan desibel itu maka semakin tinggi pula gangguan yang diterima oleh pendengarnya.

Penindakan dan sanksi ketentuan tersebut tertera dalam Undang Undang No.22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ).

Pengguna knalpot bising terancam pidana kurungan paling lama satu bulan atau denda paling banyak Rp250.000.

Baca juga

Membatasi Knalpot Racing Bukan Wewenang Polisi

Lebih lanjut, Nasir menyebut salah satu modifikasi yang kerap menganggu kenyamanan orang lain adalah penggunaan knalpot racing.

Namun, ia mengaku bukan wewenang kepolisian untuk membatasi dan memberantas perdagangan part knalpot racing di pasaran. “Itu wewenang instansi lain kalau tentang perdagangan,” ujar Nasir.

Tanda Haus Eksistensi, Arogan dan Egois

Yang pasti, sambung Pengamat otomotif Yannes Martinus Pasaribu, selain bakal ditindak di jalan, mereka yang sengaja pakai dan menikmati knalpot bising mencerminkan sisi psikologis yang bersangkutan.

Menurut Yannes, perilaku itu menandakan mereka haus akan eksistensi alias ingin diperhatikan. Sayang, cara mereka mendapatkan pengakuan justru mengganggu.

“Intinya dia ingin eksis di lingkungannya, dan mampu menunjukkan power atau hegemoni dirinya terhadap lingkungan, dalam hal ini melalui suara yang mengganggu, suara yang mengintimidasi,” terangnya.

Berikutnya, ketika mereka merasa mendominasi jalan dan mendapat adrenalin dari kebisingan, gas pun ditarik lebih kencang. Tak heran banyak yang berujung melakukan pelanggaran lalu lintas.

“Penggunaan knalpot bising dapat dikatakan sebagai representasi arogansi dan egoisme penggunanya,” pungkas Yannes. (oya/man)

Related Posts

Tinggalkan Balasan