Mobil, Motor, Tips

Berencana Ganti Ban? Ketahui Dulu Hal Ini

mengganti ban baru

Buat Kawan Parjo yang berniat ganti ban baru, teliti dulu bentuk ban lama apakah sudah layak ganti atau masih bisa diperbaiki. Namun, bukan berarti mengganti ban baru melulu jadi solusi.

Maka itu, ada beberapa hal yang perlu diketahui sebelum ganti ban. Apa saja?

Baca juga

Bentuk Ban Bisa Berubah

Bentuk ban sebetulnya bisa berubah jadi lebih lonjong atau permukaannya datar. Dampak perubahan ban ini perlu diwaspadai.

Mulai dari sulit mengendarakan kendaraan terutama saat bermanuver, mengurangi daya pengereman, hingga berpotensi mengakibatkan kecelakaan.

Penyebabnya banyak faktor. Namun, kata Zulpata Zainal, PG-On Vehicle Test (OVT) Manager PT Gajah Tunggal Tbk, pemicu utama perubahan bentuk ban tak lain besaran tekanan angin di dalam ban, terutama yang tidak terkontrol.

Penyebab Perubahan

Menurut Zulpata, ada setidaknya tiga kondisi yang bikin permukaan ban berubah.

Pertama, jelas dia, jika ban yang kurang angin terpasang dalam waktu lama di mobil, maka steel belt dari bahan ban akan tertekuk dan permukaannya berubah datar.

“Ini biasanya disebut flat spot,” ujar Zulpata.

Kedua, ketika ban yang kurang angin itu kemudian direm mendadak pada kecepatan tinggi atau istilahnya hard braking, ditambah-tambah kendaraannya tidak dilengkapi ABS, maka roda depannya akan mengalami keausan. Kondisi ini disebut spot wear.

Ketiga, bila ban yang kurang tekanan angin masih dipakai terus-menerus, maka bakal terjadi keausan yang akhirnya mengubah bentuk ban di bagian samping sisi dalam dan luar.

Yang keempat berbeda dari tiga lainnya. Yakni ketika tekanan angin dalam ban terlalu tinggi, maka keausan akan mengubah bentuk tengah ban.

Mengembalikan Bentuk Ban

Kabar baiknya, ada dua  cara yang bisa dilakukan untuk mengembalikan bentuk ban seperti semula sehingga gak perlu diganti.

Pertama, isi tekanan angin ban sekitar 44 psi, lalu jalankan kendaraan beberapa kilometer.  Nah, jika bentuk ban sudah terasa kembali normal, tinggal sesuaikan lagi tekanan anginnya.

Kedua, “Lakukan spooring dan balancing guna memeriksa dan membenarkan telapak ban,” saran Zulpata.

Catatannya, jika perubahan yang terjadi diabaikan terlalu lama, mau tidak mau ban memang wajib diganti lantaran perubahan bentuknya juga bakalan permanen.

Teliti Ban Baru, Cek Lapisan Lilinnya

Nah, ganti ban baru pun baiknya jangan sembarangan. Jika diteliti seksama, di bagian permukaan ban baru biasanya terdapat lapisan berwarna putih yang disebut lapisan lilin.

Lapisan ini terbentuk saat proses pembuatan ban dan bakal hilang sendirinya ketika ban sudah dipakai. Fungsinya supaya kompon gak mudah rusak saat disimpan, meski tahun produksinya sudah lama.

Dengan kata lain, jika ban baru punya lapisan lilin, maka ban  itu bakal tetap optimal ketika dipakai.

Khusus ban baru di toko biasanya dilapisi plastik transparan. Fungsinya sama, agar kita bisa melihat langsung apakah ban itu dilapisi minyak atau lilin.

Baca juga

Jangan Dipakai Berlebihan

Sayangnya, lapisan lilin yang terlalu banyak juga bisa membuat ban lebih licin saat menyentuh aspal. Sebab itu, Zulpata menyarankan agar ban baru jangan langsung dipakai manuver ekstrem.

Berkendara normal saja setidaknya sampai 100 kilometer. (oya/man)

Related Posts

Tinggalkan Balasan