Mobil, News, Tips

Sanksi Bagi Pelanggar Bahu Jalan Tol

Bahu jalan tol tampaknya bukan lagi tempat yang aman untuk berhenti darurat. Justru bagi banyak pengemudi bahu jalan dianggap sebagai lajur esktra untuk melaju.

Di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, kecelakaan nahas di bahu jalan tol kembali terjadi. Sebuah mobil menabrak truk tronton yang sedang berhenti di bahu jalan untuk ganti ban, Rabu siang (25/9/2019). Akibat peristiwa itu, dua penumpang mobil tewas di tempat.

Kecelakaan bahu jalan tol baik yang merenggut nyawa atau tidak memang kerap terjadi.

Pada Juni 2019 Menhub, Budi Karya Sumadi, bahkan sampai mewanti-wanti agar pengendara tidak berhenti di bahu jalan kecuali memang betul-betul darurat dan pakai tanda pengamanan ekstra lantaran fungsi lajur tersebut semakin diabaikan.

Fungsi Utama Bahu Jalan

Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2005 tentang Jalan Tol, disebutkan bahwa peruntukan bahu jalan yang utama adalah sebagai manajemen emergency.

Artinya, apabila terjadi suatu masalah yang sifatnya darurat, baik itu pecah ban, mogok, sampai kecelakaan, maka sistem quick response time atau sistem penanganan cepat segera diberlakukan.

Singkat kata, bahu jalan berfungsi utama sebagai jalur darurat untuk pertolongan cepat.

Baca juga

Yang Boleh Melintas dan Tidak

Lebih rinci, dalam pasal 4 ayat 2 Permen No.15/2005, yang boleh melintasi bahu jalan hanyalah petugas dalam kondisi darurat seperti mobil patroli kepolisian, ambulans, dan  mobil derek.

Nantinya mereka bukan hanya menolang korban, tapi juga mengamankan barang bukti sekaligus mengatasi perlambatan jalan yang mungkin muncul.

Tujuannya mencegah permasalahan di jalan semakin berlarut-larut dan akhirnya berdampak luas.

Kondisi lain yang diperbolehkan menggunakan bahu jalan adalah untuk beristirahat. Namun ini hanya dalam situasi darurat tertentu seperti mengantuk saat mudik, dan dilarang berlama-lama.

Di luar itu, bahu jalan  sebetulnya tidak boleh dipakai untuk menarik/menderek/mendorong kendaraan. Pun tidak boleh menaikkan atau menurunkan penumpang sebagaimana sering dilakukan bus antarkota.

Dan paling penting, tidak digunkan untuk mendahului kendaraan.

Fungsi Lajur Tol

Menurut Jusri Pulubuhu, Founder and Training Director Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), menggunakan bahu jalan untuk mendahului kendaraan lain dengan kecepatan tinggi adalah yang paling banyak memakan korban.

Padahal, fungsi lajur di jalan tol cukup jelas.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 15 Tahun 2005 tentang Jalan Tol pasal 5 butir (2), kecepatan kendaraan paling rendah di Tol antarkota yaitu 80 Km per jam. Sementara untuk Tol dalam kota minimal kecepatannya 60 kilometer per jam.

Lalu, pasal 41 butir 1 (b) menegaskan bahwa lajur tol semakin ke kiri semakin lambat dan sebaliknya. Hanya lajur paling kanan yang digunakan untuk mendahului, dan lajur kedua sebelah kiri hanya untuk kendaraan lambat atau lebih diprioritaskan bagi kendaraan berat.

Dengan kata lain, mereka yang melanggar boleh jadi tidak tahu, atau tidak mau tahu karena terbiasa.

Baca juga

Sanksi Bahu Jalan

Menggunakan bahu jalan tol tanpa izin atau di luar peruntukannya melanggar Pasal 287 Ayat (1) dengan ancaman pidana dua bulan atau denda Rp 500.000.

Jika Kawan Parjo beranggapan sanksinya masih terasa ringan atau bisa dilanggar karena tak selalu ada polisi di jalan tol, maka bersiaplah ditindak.

Pasalnya, demi menertibkan kendaraan sekaligus mengurangi kecelakaan, Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polda Metro Jaya akan segera memperluas sistem tilang elektronik hingga ruas tol yang dikelola Jasa Marga.

Contoh lembar surat tilang ETLE

Contoh lembar surat tilang ETLE/ Polda Metro Jaya

Diperkirakan mulai 10 Oktober mendatang, lewat bahu jalan dianggap sebagai pelanggaran rambu dan melewati batas marka jalan.

Secara otomotis, pelanggar gak bakal bisa mengelak lagi karena pelanggarannya pasti terekam kamera Electronic Traffic Law Enforcement (ETLE). (oya/man)

Related Posts

Tinggalkan Balasan