Motor, News, Tips

Motor Pakai Oli Diesel? Bisa

oli diesel di motor

Pemakaian oli diesel di mesin motor kembali mengetren di kalangan bikers. Banyak yang bilang oli mesin kompresi tinggi itu lebih kental dan tahan lama.

Sekadar mengingat, awal-awal balap motor 4-tak di tahun 2000-an memang banyak pelumas diesel dipakai di motor racing. Bahkan pembalap Manual Tech yang jadi juara nasional juga menggunakan pelumas tersebut.

Namun, kemudian muncul perdebatan soal “oli sesat”, bahwa oli diesel gak boleh dipakai di motor bensin karena bisa merusak.

Jadi mana yang benar, pakai oli diesel di motor menguntungkan atau sebaliknya?

Baca juga

Benar, Oli Diesel Lebih Awet

Kepala Mekanik Kawasaki Fatmawati, Eddy Yulianto, membenarkan bahwa oli diesel memang lebih kental sehingga awet tahan lama.

Pada pelumas mesin maupun diesel, kata dia,  ada kode pengenal oli SAE (Society of Automotive Engineers) yang di belakangnya menunjukkan angka tingkat kekentalan oli berbeda.

Pabrikan masa kini biasanya menganjurkan pakai oli encer yang kekentalan atau SAE-nya adalah 10W-30 atau 10W-40 karena mesin lebih canggih.

Sementara oli diesel terutama produksi jadul punya kekentalan lebih pekat, biasanya SAE 40.

Nah jika dibandingkan, interval pemakaian oli standar hanya sekitar 3.000 kilometer. Sementara oli diesel bisa dipakai sampai belasan ribu kilometer, atau 2 hingga 3 kali lebih lama.

Meski begitu, ada catatan lainnya.

Bikin Boros Bensin

Penggunaan SAE yang tidak tepat seperti pakai oli lebih kental dari ketentuan standar, malah membebani gerak komponen di dalam mesin sehingga motor bekerja ekstra.

“Tarikan motor bisa jadi berat,” ujar Eddy.

“Bisa pengaruh ke boros bensin motor,” tambah Cecep Rusdi, IH Assesor Enviromental Division di salah satu laboratorium swasta.

Mempercepat keausan Mesin

Selain itu, menurut Technical Specialist PT Pertamina Lubricants Agung Prabowo, formula dalam oli mesin bensin dan diesel berbeda. Jika salah spesifikasi, bakal berdampak pada keausan mesin dan kinerja mesin.

Agung menjelaskan, di oli diesel terkandung zat aditif bersifat deterjen atau pembersih. Aditif ini memang membuat mesin lebih bersih, tapi ampas pembersihannya juga mengakibatkan tumpukan kerak pada piston.

Kerak-kerak itu biasanya terlihat pada bagian dalam ruang pembakaran. “Warna abu-abu, seperti garam yang menempel dan merusak mesin,” tandasnya.

Gak hanya itu, oli diesel juga mengandung aditif anti sulfur karena bahan bakar diesel memiliki unsur sulfur lebih tinggi dibanding bensin.

Baca juga

Rekomendasi Oli Diesel, Cuma Buat Matic

Kendati demikian, oli diesel ada yang bisa dipakai di motor tapi terbatas motor matic. Ini bisa dilihat dari API Service (American Petroleum Institute) di kemasannya.

Dua yang direkomendasikan adalah oli Pertamina Meditran SC dan Shell Helix HX5.  Dua oli ini bisa untuk mesin diesel maupun motor bensin. Kekentalannya sama yaitu 15W-40 alias cukup encer. Tapi tingkat mutunya lebih tinggi shell yaitu API SN/CF, dibanding Pertamina yaitu API CF-4/SG MB.

Seperti kita tahu, oli mesin bensin biasanya berawalan huruf “S” yang berarti Spark atau pembakaran dengan api busi. Contohnya API SJ, SL, SM, dan yang paling tinggi untuk saat ini yaitu SN.

Sementara untuk oli mesin diesel diawali dengan huruf “C” yang berarti Compression atau pembakarannya terjadi karena kompresi tinggi alias tanpa api. Contohnya CI-4, CJ-4 sampai yang paling tinggi CK-4.

Namun, mengingat dua pelumas tadi gak mengantongi sertifikasi JASO MA untuk kopling basah, maka cuma cocok untuk motor dengan kopling kering seperti motor matic. (oya/man)

Related Posts

Tinggalkan Balasan