Event, Komunitas, Liputan Khusus, Motor

Mengenal Motor Klasik Langka, Suzuki GT 380

suzuki gt380

Terbilang langka, Kawan Parjo yang lahir di tahun 90-an dan melirik motor klasik Suzuki GT series mungkin gak engeh motor apa itu.

Sebab, ketimbang model GT 185, populasi GT 380 yang pernah populer di tahun 70an jauh lebih langka lagi. Yuk, mengenal lebih jauh.

Baca juga

Lini Pertama Fitur Pintar

GT merupakan lini pertama yang menampilkan berbagai fitur pintar yang kemudian digunakan pada semua motor Suzuki. Di antaranya vacuum-operated petcocks alias berpendingin udara, dan sistem pencampuran bahan bakar serta minyak otomatis (CCI) yang mengawali motor-motor lebih sedikit asap knalpot.

GT di era awal juga menampilkan komponen-komponen yang gak biasa pada zamannya. Selain dilengkapi tangki bensin dan dudukan yang besar, ada pula pengunci tutup tangki hingga segel karet pada tutup kawat busi untuk menjaga kelembapan dan menghindari sistem konslet.

Diproduksi 8 Tahun

GT 380 hanya diproduksi sejak 1972-1979. Selama 8 tahun itu, motor ini bermetamorfosis sedikit demi sedikit.

Pada 1972, adik dari Suzuki Water-cooled GT750 “Water Buffalo” lansiran tahun 1971 ini hadir pertama kali di pasar AS dengan konfigurasi mesin 3 silinder 2-tak berkapasitas 350-400 CC yang paling diperebutkan kala itu.

Cocok Buat Turing

Hasil gambar untuk suzuki gt380 1972
GT 380 keluaran pertama tahun 1972

Model pertamanya cukup sporty, tapi bukan sengaja diciptakan sebagai pesaing Kawasaki triples yang memang terkenal sebagai motor berkecepatan roket.

Mesin GT 380 lebih disetel untuk kelancaran dan keandalan berkendara alias menghasilkan daya yang halus ketimbang tenaga maksimal. Gak heran, jika motor ini lebih dikenal untuk turing dibanding riding gaya sport.

Baca juga

Metamorfosis GT380

Di tahun 1973, GT 380 hadir dengan cakram 275mm di bagian depan menggantikan rem drum yang digunakan pada model sebelumnya. Ada pula beberapa perubahan kecil pada sistem rangka dan knalpot seperti menambah ground clearance dan mengurangi getaran.

GT 380 1974 sudah menggunakan kipas pendingin dan indikator gigi ditambah karburator dengan tipe kecepatan konstan, sedangkan karburator lansiran tahun 1975 kembali ke tipe slide.

Untuk model GT380A 1976 pada dasarnya tetap sama, kecuali perubahan warna cat yang evolusioner dibanding sebelumnya.

Selebihnya, model-model antara tahun 1975-1977 terbilang mirip satu sama lain, bedanya hanya perubahan visual di bodi seperti warna atau aksesoris tambahan.

Akhirnya, meskipun GT 380 nan kuat dan andal layaknya mesin motor 4-tak sudah banyak peminat, tetap saja produksinya mesti menurun lantaran harga bahan bakar meningkat di tahun 70an. Apalagi kala itu konsumsi BBM-nya belum irit.

Lebih-lebih ketika Amerika mengeluarkan peraturan emisi lebih ketat soal motor 2-tak, produksi GT 380 mesti terhenti sepenuhnya tahun 1979.

Tampil di Booth Parjo x IDE 2019

Motor ini bakal tampil di booth Parjo x IDE 2019 yang digelar pada Sabtu-Minggu (26-27/10), di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Tangerang, di Hall 3A.

Buat Kawan Parjo yang penasaran, boleh sambangi langsung booth Parjo, karena ragam keseruan lainnya bakal hadir di sana. (oya/man)

Related Posts

Tinggalkan Balasan