Design trends, News, Uncategorized

Terinspirasi Macet, Tukang Bubut Rakit Helikopter Murah

helikopter murah

Alih-alih menggerutu melihat kemacetan, Jujun Junaedi, seorang tukang bubut asal Sukabumi berinovasi melahirkan karya kreatif.

Ia merakit helikopter murah berbahan seadanya yang dinamai Gardes JN 77 GM.

Baca juga

Terinspirasi Macet

Lelaki 42 tahun yang akrab disapa Jujun itu mengaku inspirasinya muncul lantaran jengah tiap hari menyaksikan macet di depan bengkel tempatnya bekerja.

Padahal, pikir dia, angkasa masih kosong dipakai lalu lalang.

Akhirnya, berbekal kemampuan mekanik seadanya ditambah latar belakang lulusan STM (SMK) Siliwangi 1996, tercetuslah ide membuat helikopter murah sebagai solusi macet buat masyarakat.

Idenya perlahan terwujud. Sejak Agustus 2018, Jujun mulai mencicil membuat helikopter di halaman belakang rumahnya.

Bila dihitung, meski total modal pembuatan helikopter menghabiskan dana hingga Rp30 juta, ini jelas masih jauh lebih murah dibanding helikopter buatan luar yang mencapai Rp22 miliar.

Hasil gambar untuk helikopter Gardes JN 77"

Hampir Rampung

Saat ini, helikopter murah bikinan Jujun sudah mendekati 80 persen rampung. Tinggal finishing dan baling-baling utamanya saja yang sedang digarap.

Dari segi bodi, helikopter ini berukuran lebar 1,4 meter, tinggi 2,5 meter dan panjang dari bagian kokpit hingga ke ekor sekitar 8 meter.

Sementara baling-baling utama rencananya akan berukuran panjang 8 meter dan bagian belakang 2 meter.

Untuk mesin, helikopter kreatif ini menggunakan mesin penggerak generator set (genset) berkapasitas besar 24 PK, 700 cc, dan dua silinder berbahan bakar premium.

Dalam waktu dekat, diperkirakan akhir 2019 atau awal 2020 nanti helikopter garapannya akan menjalani uji terbang.

Banyak Hambatan

Kendati tak pernah patah arang, Jujun mengaku proses pengerjaan helikopter banyak menghadapi hambatan. Terutama waktu yang lebih lama.

“Untuk membeli barang yang dibutuhkan harus menunggu waktu. Perlu menyisihkan. Karena kan saya tidak mau mengganggu uang dapur,” ujarnya.

Jujun pun cuma mengandalkan hari libur atau selepas kerja di bengkel , dan hanya dibantu anak pertamanya beserta kerabat.

Lalu, karena gak terlalu paham bagian-bagian helikopter, Jujun perlu banyak meriset kecil-kecilan. Selain berkonsultasi dengan sejawatnya yang mayoritas mekanik alat berat, ia juga mengakses video Youtube tentang pembuatan helikopter terutama bagian dalam.

Sayang, dari sekian banyak konten YouTube yang pernah ditonton, “Tidak ada penuntasan sampai ukuran yang diberikan. Makanya, saya harus mengolah sendiri,” tutur ayah tiga anak itu.

Gagal Kunci Sukses

Sebagai contoh, untuk mengerjakan pergerakan baling-baling belakang yang kini sudah rampung 100 persen, gagal berkali-kali terbilang lazim.

Awalnya Jujun menggunakan v-belt atau sabuk pemutar daya mesin karena murah. Lalu ia mengakalinya dengan tambahan tensioner (alat penahan ketegangan) agar gak memicu getaran. Tapi hasilnya gak sesuai.

Barulah kemudian dia berhasil memutar baling-baling belakang, setelah mengganti penerus daya menggunakan gardan.

Sementara kendala pembuatan baling-baling atas atau baling-baling utama. Kata Jujun, lebih pada kontruksinya.

“Awalnya pakai baja ringan tapi kelebihan beban akhirnya saya balik lagi pakai fiber. Ternyata sama juga. Nah, sekarang kontruksinya itu antara baja ringan dengan fiber. Nanti akan ditipiskan beban ke mesinnya biar lebih ringan,” urai Jujun.

Baca juga

Berharap Masukan Ahli

Makanya itu, menyadari segala keterbatasannya. Jujun berharap bisa mendapat masukan dari ahli pesawat terbang betulan.

Selain gak tahu bagaimana dan ke mana harus menghubungi para ahli, Jujun pun belum pernah melihat dari dekat helikopter buatan pabrikan karena sama sekali gak punya akses.

“Saya terbuka bila ada ahli Teknik penerbangan yang mau membantu penyempurnaan pembuatan helikopter ini, karena saya belum pernah menumpang helikopter,” harapnya. (oya/man)

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *